Kamis, 13 Juni 2013

Makalah Agama



A.  NABI  MULAI  SAKIT
Ini berawal setelah Nabi selesai melaksanakan Haji Wada’ bersama kaum muslikmin lainya. Nabi juga telah memerintahkan Usama untuk menjadi pemimpin untuk memerangi palestina.
Saat itu usama dan pasukannya berangkat ke Jurf (tidak jauh dari Medinah). Mereka mengadakan persiapan hendak berangkat ke Palestina. Tetapi, saat mereka sedang bersiap-siap tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan sakitnya makin keras, sehingga mereka tidak jadi berangkat.
Bisa jadi orang bertanya: Bagaimana sebuah pasukan yang persiapannya dan keberangkataanya diperintahkan oleh Rasulullah, tidak jadi berangkat karena dia sakit? Ya, Perjalanan pasukan ke Syam yang akan mengarungi sahara dan daerah tandus selama berhari-hari itu bukan soal ringan dan tidak pula mudah membuat kaum Muslimin dengan Nabi yang sangat mereka cintai melebihi cinta mereka kepada diri sendiri akan meninggaIkan Madinah sedang Nabi dalam keadaan sakit, dan yang sudah mereka sadari pula apa sebenarnya dibalik sakitnya itu.

Ditambah lagi mereka memang belum pernah melihat Nabi mengeluh karena sesuatu penyakit yang berarti. Penyakit yang pernah dideritanya tidak lebih dari kehilangan nafsu makan yang pernah dialaminya dalam tahun keenam Hijrah. Tatkala ada tersiar berita bohong bahwa ia telah disihir oleh orang-orang Yahudi, dan satu penyakit lagi yang pernah dideritanya sehingga karenanya ia berbekam, yaitu setelah termakan daging beracun dalam tahun ketujuh Hijrah. Cara hidupnya dan ajaran-ajarannya memang jauh dari gejala-gejala penyakit dan akibat-akibat yang akan timbul karenanya. Dalam membatasi diri dalam makanan, dan makannya yang hanya sedikit, kesederhanaannya dalam berpakaian dan cara hidup,  kebersihan yang dipeliharanya luar biasa dengan mengharuskan wudhu yang sangat disukainya, sampai pernah ia berkata: Kalau tidak karena khawatir akan memberatkan orang ia ingin mewajibkan penggunaan siwak lima kali sehari. Kegiatannya yang tiada pernah berhenti, kegiatan beribadah dari satu segi dan kegiatan olah-raga dari segi lain. Kesederhanaan dalam segalanya terutama dalam kesenangan, keluhurannya yang jauh dari segala hawa nafsu, dengan jiwa yang begitu tinggi tiada taranya, komunikasinya dengan kehidupan dan dengan alam dalam bentuknya yang sangat cemerlang, dan tiada putusnya, semua itu menjauhkan dirinya dari penyakit dan dapat memelihara kesehatan. Bentuk tubuh yang sempurna tiada cacat, perawakan yang tegap kuat, seperti halnya dengan Muhammad, akan jauh selalu dari penyakit.
Jadi ketika Nabi  jatuh sakit, wajar sekali menjadi kekhawatiran sahabat-sahabat dan orang-orang yang mencintainya. Wajar sekali mereka merasa kuatir, menyatakan betapa ia pernah mengalami kesulitan dan penderitaan hidup selarna dua puluh tahun terus-menerus. Sejak ia terang-terangan berdakwah di Mekah mengajak orang menyembah Allah Yang tiada bersekutu dan meninggalkan semua berhala yang pernah disembah nenek-moyang mereka. Ia sudah mengalami pahit getirnya penderitaan-penderitaan yang sungguh menekan jiwa, sehingga ia terpisah dari sahabat-sahabatnya yang kemudian disuruhnya hijrah ke Abisinia, dan dia sendiri yang terpaksa berlindung di celah-celah gunung tatkala pihak Quraisy mengumumkan pemboikotannya. Ketika ia juga berangkat hijrah ke makkah ke madinah setelah ikrar ‘Aqoba ia hijrah dengan keadaan yang gawat dan berbahaya, ia hijrah tanpa ia ketahui apa yang akan terjadi terhadap dirinya di madinah kelak. Pada tahun-tahun pertama ia tinggal di sana, ia telah menjadi sasaran orang-orang yahudi.
§  Mengeluh sakit kepala
Pada saat mengunjungi rumah aisyah, beliau mengeluh sakit kepala. Setelah rasa sakitnya terasa agak berkurang, ia mulai lagi mengunjungi isteri-isterinya seperti biasa. Tetapi kemudian sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras. Ketika ia sedang berada di rumah Maimunah ia sudah tidak dapat lagi mengatasinya. Ia merasa perlu mendapat perawatan. Ketika itu dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dimintanya ijin kepada mereka, setelah melihat keadaannya begitu, beliau akan dirawat di rumah Aisyah.
§  Demam
Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar. Sungguh pun begitu, ketika demamnya menurun ia pergi berjalan ke mesjid untuk memimpin sembahyang. Hal ini dilakukannya selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari sembahyang saja. Ia sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya.
§  Menyuruh Abu Bakar memimpin sembahyang
Ia kembali ke rumah Aisyah. Tetapi energi yang digunakannya selama ia dalam keadaan sakit itu, telah membuat sakitnya terasa lebih berat lagi. Sungguh suatu pekerjaan berat, terutama buat orang yang sedang menderita demam, ia keluar juga setelah disirami tujuh kirbat air, ia keluar dengan membawa beban pikiran yang sangat berat. Keesokan harinya ia hendak bangun untuk memimpin sembahyang, tapi ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata kepada ‘Aisyah: “Suruh Abu Bakar untuk memimpin sembahyang.”
Dengan demikian, orang menduga bahwa Nabi menghendaki Abu Bakar sebagai penggantinya kemudan. Karena memimpin orang-orang sembahyang merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah

Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin memuncak, isteri-isteri dan tamu-tamu yang datang menjenguknya, meletakkan tangan di atas selimut yang dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan itu. Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Ia sangat mencintai puterinya itu, cinta seorang ayah kepada anak yang hanya tinggal satu-satunya sebagai keturunan. Apabila ia datang menemui Nabi, ia menyambutnya dan menciumnya, lalu didudukkannya di tempat ia duduk. Tetapi setelah sakitnya demikian payah, puterinya itu datang menemuinya dan mencium ayahnya.
Diantara orang yang hadir di situ, bahwa Rasulullah sudah sangat gawat. Pada kita sudah ada kitabullah, maka sudah cukuplah dengan kitabullah itu. Ada yang mengatakan bahwa unar yang mengatakan seperti itu. Di kalangan yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada pula yang keberatan karena sudah cukup dengan kitabullah.
Mendengar semua itu Rasulullah bersabda: “Pergilah kamu sekalian, tidak patut kamu berselisih dihadapan Nabi!”
Tetapi Ibn ‘Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dalam pendapatnya, bahwa dalam kitab suci Allah berfirman:
“Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam kitab itu.” (Qur’an 6:38)
Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat hendak membantunya dengan pengobatan. Asma' salah seorang kerabat Maimunah telah menyediakan semacam minuman, yang pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman itu ke mulutnya. Ia sadar kembali ia bertanya: “Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?”
“Kami khawatir Rasulullah menderita sakit radang selaput dada.” Kata Abbas, pamannya.
“Allah tidak akan menimpakan penyakit itu kepadaku.” Jawab Rasulullah.
Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah supaya meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang berpuasa.
Malam itu Nabi Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan Fadzl bin 'Abbas. Abu Bakar waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira yang luar biasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan shalatnya. Bukan main Nabi merasa gembira melihatnya.
Abu Bakar merasa apa yang telah dilakukan mereka itu, dan yakinlah dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau tidak karena Rasulullah. Ia surut dari tempat sembahyangnya untuk memberikan tempat kepada Muhammad. Tetapi Muhammad mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang bersembahyang. Dia sendiri kemudian duduk di samping Abu Bakr dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya.
Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi, bukan main genbiranya kaum muslimin. Sampai-sampai Usama bin Zaid datamn menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa pasukan ke syam.
Nabi pun kembali ke rumah ‘Aisyah. Senang sekali hatinya melihat kaum muslimin sudah memenuhi masjid dengan hati yang bersemarak. Meskipun ia masih merasakan badannya sangat lemah.


B.  DETIK-DETIK WAFATNYA RASULULLAH
Inilah detik-detik yang terjadi ketika nabi Muhammad menghembuskan nafas terakhir.
Kemudian masuklah malaikat jibril menemui nabi Muhammad saw. Seraya berkata: “Malaikat maut ada di pintu, meminta ijin untuk menemuimu, dan aku tidak pernah meminta ijin kepada seorangpun sebelumnya.” Maka Beliau berkata kepadanya: “Ijinkan untuknya malaikat Jibril.” Masuklah malaikat maut serta berkata: “Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di akhirat.” Maka Nabi Saw. Bersabda: “Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul ‘Ala (Teman yang tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul ‘Ala bersama orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang shaleh. Mereka itulah rafiq (teman) yang sebaik-baiknya.”
‘Aisyah ra. Menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan ia mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a: “Ya Allah, ampunilah aku dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.” Berdirilah malaikat maut di sisi Nabi Saw. dia berkata: “Wahai roh yang bagus, roh Muhammad ibnu Abdillah, keluarlah menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yang ridha dan tidak murka.”
Sayyidah ‘Aisyah ra. berkata: “Maka jatuhlah tanga Nabi Saw dan kepala beliau menjadi terasa berat di dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” Dia ra. berkata: “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tidak ada yang ku perbuat selain keluar menuju masjid yang di sana ada para sahabat dan aku berkata: Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”
Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib ra. tertunduk dengan kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan ra. seperti anak kecil yang enggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, adapun ‘Umar bin al-Khattab ra. berkata: “Jika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah meninggal, akan ku potong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabbnya sebagaimana musa as pergi menemui Rabbnya.” Adapun orang yang paling tegar adalah Abu Bakar As-Shiddiq ra. ia masuk kepada Rasulullah Saw, memeluk beliau dan berkata: “Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alahi Wassalam dan berkata: “Anda mulia dalam keadaan hidup dan mati.”
Keluarlah Abu Bakar ra. kepada manusia dan berkata: “Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal dan tidak akan mati.” Maka akupun keluar dan menangis dan mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.
Innalillahi wainna ilaihi raaji’un, telah berpulang ke rahmat Allah orang yang paling mulia, orang yang paling kita cintai, di waktu dhuha ketika memanas di hari senin 12 Rabi’ul Awwal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. Semoga Shalawat dan Salam selalu tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi WaSallam.




0 komentar:

Posting Komentar