A. NABI MULAI SAKIT
Ini berawal setelah Nabi selesai melaksanakan Haji Wada’
bersama kaum muslikmin lainya. Nabi juga telah memerintahkan Usama untuk
menjadi pemimpin untuk memerangi palestina.
Saat itu usama dan pasukannya berangkat ke Jurf (tidak jauh
dari Medinah). Mereka mengadakan persiapan hendak berangkat ke Palestina.
Tetapi, saat mereka sedang bersiap-siap tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan
sakitnya makin keras, sehingga mereka tidak jadi berangkat.
Bisa jadi orang bertanya: Bagaimana sebuah pasukan yang
persiapannya dan keberangkataanya diperintahkan oleh Rasulullah, tidak jadi
berangkat karena dia sakit? Ya, Perjalanan pasukan ke Syam yang akan mengarungi
sahara dan daerah tandus selama berhari-hari itu bukan soal ringan dan tidak
pula mudah membuat kaum Muslimin dengan Nabi yang sangat mereka cintai melebihi
cinta mereka kepada diri sendiri akan meninggaIkan Madinah sedang Nabi dalam
keadaan sakit, dan yang sudah mereka sadari pula apa sebenarnya dibalik
sakitnya itu.
Ditambah lagi mereka memang belum pernah melihat Nabi
mengeluh karena sesuatu penyakit yang berarti. Penyakit yang pernah dideritanya
tidak lebih dari kehilangan nafsu makan yang pernah dialaminya dalam tahun
keenam Hijrah. Tatkala ada tersiar berita bohong bahwa ia telah disihir oleh
orang-orang Yahudi, dan satu penyakit lagi yang pernah dideritanya sehingga
karenanya ia berbekam, yaitu setelah termakan daging beracun dalam tahun
ketujuh Hijrah. Cara hidupnya dan ajaran-ajarannya memang jauh dari
gejala-gejala penyakit dan akibat-akibat yang akan timbul karenanya. Dalam
membatasi diri dalam makanan, dan makannya yang hanya sedikit, kesederhanaannya
dalam berpakaian dan cara hidup, kebersihan yang dipeliharanya luar
biasa dengan mengharuskan wudhu yang sangat disukainya, sampai pernah ia
berkata: Kalau tidak karena khawatir akan memberatkan orang ia ingin mewajibkan
penggunaan siwak lima kali sehari. Kegiatannya yang tiada pernah berhenti,
kegiatan beribadah dari satu segi dan kegiatan olah-raga dari segi lain.
Kesederhanaan dalam segalanya terutama dalam kesenangan, keluhurannya yang jauh
dari segala hawa nafsu, dengan jiwa yang begitu tinggi tiada taranya,
komunikasinya dengan kehidupan dan dengan alam dalam bentuknya yang sangat
cemerlang, dan tiada putusnya, semua itu menjauhkan dirinya dari penyakit dan
dapat memelihara kesehatan. Bentuk tubuh yang sempurna tiada cacat, perawakan
yang tegap kuat, seperti halnya dengan Muhammad, akan jauh selalu dari
penyakit.
Jadi ketika Nabi jatuh sakit, wajar sekali
menjadi kekhawatiran sahabat-sahabat dan orang-orang yang mencintainya. Wajar
sekali mereka merasa kuatir, menyatakan betapa ia pernah mengalami kesulitan
dan penderitaan hidup selarna dua puluh tahun terus-menerus. Sejak ia
terang-terangan berdakwah di Mekah mengajak orang menyembah Allah Yang tiada
bersekutu dan meninggalkan semua berhala yang pernah disembah nenek-moyang
mereka. Ia sudah mengalami pahit getirnya penderitaan-penderitaan yang sungguh
menekan jiwa, sehingga ia terpisah dari sahabat-sahabatnya yang kemudian
disuruhnya hijrah ke Abisinia, dan dia sendiri yang terpaksa berlindung di
celah-celah gunung tatkala pihak Quraisy mengumumkan pemboikotannya. Ketika ia
juga berangkat hijrah ke makkah ke madinah setelah ikrar ‘Aqoba ia hijrah
dengan keadaan yang gawat dan berbahaya, ia hijrah tanpa ia ketahui apa yang
akan terjadi terhadap dirinya di madinah kelak. Pada tahun-tahun pertama ia
tinggal di sana, ia telah menjadi sasaran orang-orang yahudi.
§ Mengeluh sakit kepala
Pada saat mengunjungi rumah aisyah, beliau mengeluh sakit
kepala. Setelah rasa sakitnya terasa agak berkurang, ia mulai lagi mengunjungi
isteri-isterinya seperti biasa. Tetapi kemudian sakitnya terasa kambuh lagi,
dan terasa lebih keras. Ketika ia sedang berada di rumah Maimunah ia sudah
tidak dapat lagi mengatasinya. Ia merasa perlu mendapat perawatan. Ketika itu
dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dimintanya ijin kepada mereka,
setelah melihat keadaannya begitu, beliau akan dirawat di rumah Aisyah.
§ Demam
Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa
makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar. Sungguh pun begitu,
ketika demamnya menurun ia pergi berjalan ke mesjid untuk memimpin sembahyang.
Hal ini dilakukannya selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari sembahyang
saja. Ia sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya.
§ Menyuruh Abu Bakar memimpin sembahyang
Ia kembali ke rumah Aisyah. Tetapi energi yang digunakannya
selama ia dalam keadaan sakit itu, telah membuat sakitnya terasa lebih berat
lagi. Sungguh suatu pekerjaan berat, terutama buat orang yang sedang menderita
demam, ia keluar juga setelah disirami tujuh kirbat air, ia keluar dengan
membawa beban pikiran yang sangat berat. Keesokan harinya ia hendak bangun
untuk memimpin sembahyang, tapi ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia
berkata kepada ‘Aisyah: “Suruh Abu Bakar untuk memimpin sembahyang.”
Dengan demikian, orang menduga bahwa Nabi menghendaki Abu
Bakar sebagai penggantinya kemudan. Karena memimpin orang-orang sembahyang
merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah
Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin
memuncak, isteri-isteri dan tamu-tamu yang datang menjenguknya, meletakkan
tangan di atas selimut yang dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat
meletihkan itu. Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Ia sangat
mencintai puterinya itu, cinta seorang ayah kepada anak yang hanya tinggal
satu-satunya sebagai keturunan. Apabila ia datang menemui Nabi, ia menyambutnya
dan menciumnya, lalu didudukkannya di tempat ia duduk. Tetapi setelah sakitnya
demikian payah, puterinya itu datang menemuinya dan mencium ayahnya.
Diantara orang yang hadir di situ, bahwa Rasulullah sudah
sangat gawat. Pada kita sudah ada kitabullah, maka sudah cukuplah dengan
kitabullah itu. Ada yang mengatakan bahwa unar yang mengatakan seperti itu. Di
kalangan yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: Biar
dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada pula yang keberatan karena
sudah cukup dengan kitabullah.
Mendengar semua itu Rasulullah bersabda: “Pergilah kamu
sekalian, tidak patut kamu berselisih dihadapan Nabi!”
Tetapi Ibn ‘Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang
waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak dikatakan oleh Nabi.
Sebaliknya Umar masih tetap dalam pendapatnya, bahwa dalam kitab suci Allah
berfirman:
“Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam kitab itu.” (Qur’an
6:38)
Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat
hendak membantunya dengan pengobatan. Asma' salah seorang kerabat Maimunah
telah menyediakan semacam minuman, yang pernah dipelajari cara pembuatannya
selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena
demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman itu ke mulutnya.
Ia sadar kembali ia bertanya: “Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu
melakukan itu?”
“Kami khawatir Rasulullah menderita sakit radang selaput
dada.” Kata Abbas, pamannya.
“Allah tidak akan menimpakan penyakit itu kepadaku.” Jawab
Rasulullah.
Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah supaya
meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang berpuasa.
Malam itu Nabi Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya
sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang diberikan keluarganya
itulah yang sudah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai
karena itu ia dapat pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan
berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan Fadzl bin 'Abbas. Abu
Bakar waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Setelah kaum
Muslimin yang sedang melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa
gembira yang luar biasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam sembahyang itu.
Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan shalatnya. Bukan main Nabi
merasa gembira melihatnya.
Abu Bakar merasa apa yang telah dilakukan mereka itu, dan
yakinlah dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau tidak karena
Rasulullah. Ia surut dari tempat sembahyangnya untuk memberikan tempat kepada
Muhammad. Tetapi Muhammad mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin
terus orang bersembahyang. Dia sendiri kemudian duduk di samping Abu Bakr dan
sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya.
Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi, bukan main genbiranya
kaum muslimin. Sampai-sampai Usama bin Zaid datamn menghadap kepadanya dan
minta ijin akan membawa pasukan ke syam.
Nabi pun kembali ke rumah ‘Aisyah. Senang sekali hatinya
melihat kaum muslimin sudah memenuhi masjid dengan hati yang bersemarak.
Meskipun ia masih merasakan badannya sangat lemah.
B. DETIK-DETIK WAFATNYA RASULULLAH
Inilah detik-detik yang terjadi ketika nabi Muhammad
menghembuskan nafas terakhir.
Kemudian masuklah malaikat jibril menemui nabi Muhammad saw.
Seraya berkata: “Malaikat maut ada di pintu, meminta ijin untuk menemuimu, dan
aku tidak pernah meminta ijin kepada seorangpun sebelumnya.” Maka Beliau
berkata kepadanya: “Ijinkan untuknya malaikat Jibril.” Masuklah malaikat maut
serta berkata: “Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk
memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan
Allah di akhirat.” Maka Nabi Saw. Bersabda: “Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul ‘Ala
(Teman yang tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul ‘Ala bersama orang-orang
yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, orang-orang
yang mati syahid dan orang shaleh. Mereka itulah rafiq (teman) yang
sebaik-baiknya.”
‘Aisyah ra. Menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan ia
mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a: “Ya Allah, ampunilah aku
dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la,
Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.” Berdirilah malaikat maut di sisi Nabi
Saw. dia berkata: “Wahai roh yang bagus, roh Muhammad ibnu Abdillah, keluarlah
menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yang ridha dan tidak murka.”
Sayyidah ‘Aisyah ra. berkata: “Maka jatuhlah tanga Nabi Saw
dan kepala beliau menjadi terasa berat di dadaku, dan sungguh aku telah tahu
bahwa beliau telah wafat.” Dia ra. berkata: “Aku tidak tahu apa yang harus aku
lakukan, tidak ada yang ku perbuat selain keluar menuju masjid yang di sana ada
para sahabat dan aku berkata: Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat,
Rasulullah telah wafat.”
Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi
Thalib ra. tertunduk dengan kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan ra. seperti anak
kecil yang enggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, adapun ‘Umar bin
al-Khattab ra. berkata: “Jika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah meninggal,
akan ku potong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui
Rabbnya sebagaimana musa as pergi menemui Rabbnya.” Adapun orang yang paling
tegar adalah Abu Bakar As-Shiddiq ra. ia masuk kepada Rasulullah Saw, memeluk
beliau dan berkata: “Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian
dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alahi Wassalam dan berkata: “Anda mulia dalam
keadaan hidup dan mati.”
Keluarlah Abu Bakar ra. kepada manusia dan berkata: “Barang
siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barang siapa
menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal dan tidak akan mati.” Maka
akupun keluar dan menangis dan mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis
sendiri.
Innalillahi wainna ilaihi raaji’un, telah berpulang ke
rahmat Allah orang yang paling mulia, orang yang paling kita cintai, di waktu
dhuha ketika memanas di hari senin 12 Rabi’ul Awwal 11 H tepat pada usia 63
tahun lebih 4 hari. Semoga Shalawat dan Salam selalu tercurah kepada Baginda
Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi WaSallam.
0 komentar:
Posting Komentar